Sabtu, 31 Agustus 2013

2

Simple Desire (Cerpen)



Hanya ada satu hal yang aku inginkan di dunia ini. Satu hal saja sebelum Tuhan dengan otoritas tak terbantahkannya menutup buku hidup, cerita hidupku. Satu hal―
―tidak muluk. Tidak sulit.

Aku tidak perlu akhir bahagia seperti pangeran yang menemukan Cinderella-nya. Bukan, bukan itu yang aku mau. Bukan kisah happy ending seperti itu.

Tapi, bukan juga kisahku harus berakhir seperti Romeo dan Juliet. Yah, mungkin itu terlalu dramatis. Sad ending yang sungguh dramatis. Aku tidak pernah menginginkan akhir seperti itu juga. Karena yang aku mau, hanya―

Satu hal sederhana.

*

"Sampai kapan kamu kayak gini, Alvin? Kamu pikir, dia itu bisa baca pikiran orang apa? Dia gak bakal tahu kalo kamu gak kasih tahu."

Mari kita hitung! Mungkin ini yang ke 123 kalinya kata-kata itu terlontar dari bibir tipis sahabatku, Gaza. Si autis tampan, playboy cap kayu manis impor dari Belanda yang saat ini terlihat sibuk ngotak-ngatik ponselnya.

"Nunggu waktu yang tepat, Za," tuturku simple. Kuubah sedikit posisi dudukku agak menghadap kiri. Tujuanku satu, bisa melihat dia yang saat ini tengah asyik menikmati mie baksonya bersama kedua temannya.
"Waktu yang tepat kapan? Nunggu kamu sekarat, gitu? Biar bisa kayak di drama-drama Korea itu, ya?

Sejak kapan kamu jadi sok dramatis gitu?"

Heh!

Aku menoleh dengan cepat ke arah Gaza. Sedikit menyeringai kesal. "Iya, aku tahu aku mau mati. Tapi bukan maksudku mau buat drama juga. Emangnya aku itu kamu, apa? Pembual kelas atas. Penggombal pangkat tinggi," tukasku sadis.

Gaza acuh saja seolah apa yang aku paparkan tidak menyakitinya sedikit pun. Ya, wajah tampannya memang paling bisa masangin wajah tanpa dosa. Kali ini dia sibuk menatap ke arah meja dia-yang-selalu-aku-puja dengan sangat serius.

"Kita bertaruh!"

Iris cokelat tua Gaza tiba-tiba terarah padaku. Menantang.

"Bertaruh apa?" tanyaku. Kubiarkan mata sipitku beradu dengan mata besar nan indah milik laki-laki pemilik nama kota yang terjajah itu.

"Siapa yang paling bisa, dia yang menang!" Gaza menyeringai. Dia kembali menatap gadis-gadis yang sedang asyik tertawa karena obrolan-orolan ringan mereka.

"Maksud kamu?"

"Aku mau dapetin cewek itu juga. Kita bersaing si―"

"Maksud kamu siapa? Cewek yang mana?"

"Siapa lagi? Fia dong! Pujaan hatimu." Gaza menatapku lagi. Mata polosnya yang selalu berhasil memikat cewek-cewek itu menusukku tajam. Membuat dadaku terasa―sesak sekali!

"Maksud kamu apa, sih?" kecamku semakin tidak mengerti. Dia menginginkan Fia juga? Lalu, dia mengajakku bertaruh untuk mendapatkan Fia? Kejam sekali!

"Aku gak maksud nusuk kamu dari belakang, Al. Cuma, aku penasaran aja sama cewek itu. Kenapa kamu bisa sebegitu cinta matinya sama dia. Dan aku rasa dia manis."

"You're crazy, you know it?!" emosiku tersulut.

"Ya, sekarang sih aku kasih pilihan. Bergerak cepat atau dia keburu jadi milikku!"

Dasar penjahat! Mana boleh begitu?

"Deal?" Gaza mengulurkan tangannya. Senyumnya menyembunyikan banyak arti.

Aku masih diam mematung. Suasana kantin yang ramai terasa senyap. Aku masih tidak mempercayai apa yang baru saja sampai ke telingaku. Rasanya―

Ada yang mencengkram kuat jantungku.

Fia itu gadis yang aku kagumi, mungkin aku cintai selama enam tahun ini. Dia manis, cantik, pintar, baik dan sekarang Gaza―orang yang sudah kuanggap sahabat bahkan keluargaku―baru saja mengatakan ingin mendapatkan Fia juga?

Aku rasa dia memang autis sungguhan! Dia gila! Sahabat macam apa, dia itu?

"Setuju gak setuju, aku tetap bakalan berusaha dapetin dia."

Licik!

"Aku tidak faham," geramku.

"Jangan pura-pura dungu, Alvin! Jangan memalukan nama baik sekolah hanya karena siswa paling pintarnya tidak mengerti hal kayak ginian!"

Aku menarik nafas dalam-dalam. Ucapan Gaza sedikit menyinggung perasaanku. Dia fikir, otakku ini dipenuhi taktik-taktik untuk mendapatkan cewek apa? Bukankah dari tampang saja sudah membuktikan aku bukan tipe cowok playboy kayak dia?

"Intinya, kamu harus bergerak cepat sebelum dia jatuh dalam dekapanku. Yang paling bisa, yang menang," ujarnya mengulang kembali kata-katanya. Ia tarsenyum sinis tapi aku menangkap makna penuh arti dalam senyuman itu. Dan aku tidak bisa menerawang apa maksud dibaliknya. Aku mulai menyayangkan, kenapa aku tidak lahir dengan memiliki sixth sense.
 
*

Ini memang faktanya.

Aku terlahir dalam keadaan menyedihkan.

Seperti ulat yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu cantik tanpa sayap. Cacat. Tak bisa terbang. Hei, pernahkah kau melihat kupu-kupu tanpa sayap? Well, tak perlu dipedulikan karena itu hanya ada dalam imajinasiku. Dan yang harus dipedulikan saat ini adalah aku.

Ya, aku!

Bukan! Tepatnya rasa sakitku―

Rasa sakit yang kali ini menjajah bagian dadaku tanpa ampun, hingga untuk satu jam terakhir ini ringisan beserta erangan berhasil lolos dari mulutku.

Aku bergelut sendiri dengan sakit ini. Bergulung dengan bed-cover berwarna merah cerah dengan lambang Manchester United―tim sepak bola yang kuandalkan―yang agak basah karena keringat dingin yang terus mendesak keluar dari tiap pori tubuhku. Rasanya nyeri sekali. Sesak menohok paru-paruku dengan ekstrim, hingga aku yang semula membenamkan wajahku di balik bantal―percayalah! Yang kulakukan itu semata-mata karena aku tidak ingin ada orang yang melihat paras burukku ketika mengerang seperti ini, termasuk malaikat perampas nyawa sekali pun―segera mengangkat wajahku. Mulutku terbuka, sibuk mencari oksigen.

Sialan! Penyakit sialan!

Kenapa ia tega sekali hinggap di tubuhku ini. Melahap habis semua kesempurnaan yang kumiliki. Kaya, tampan, pintar, populer, banyak teman, dimanja Mama sama Papa, dibanggakan semua guru dan bahkan dianugerahkan rasa cinta oleh Tuhan pun rasanya teramat sia-sia karena penyakit ini.

Aku hidup menjadi seorang fatalis sejati semenjak aku dijatuhkan vonis hukum merasakan sakit ini sejak 5 tahun yang lalu. Dan termasuk untuk cerita cintaku.

Bukankah sudah lebih dari dua minggu ini aku pasrah dengan sakitku yang bertambah menjadi dua. Sakit karena penyakit yang bersarang dalam tubuhku, dan sakit karena aku hanya bisa pasrah saja ketika si autis Gaza dengan tanpa hati merebut Fia-ku. Dan bodohnya, kenapa Fia bisa dengan mudahnya melahap rayuan penuh racun laki-laki―aku katakan lagi―playboy cap kayu manis impor dari Belanda itu. Ah, iya...

Jawabannya tentu karena Gaza keren! Karena Gaza sempurna! Yang lebih penting, karena Gaza punya keberanian. Tapi aku masih tidak faham―

Akh, sudahlah apa pun alasan laki-laki pindahan dari Amsterdam itu, aku bersumpah demi apa pun yang ada di bumi ini, jika aku sembuh nanti aku akan―

uhuk!!

"Ya, Tuhan..." tamatlah cerita hidupku.

Aku menatap lekat-lekat bercak merah pekat, kental, amis yang kini mewarnai telapak tanganku. Dia meronta keluar saat batuk yang cukup menyakitkan itu menyerangku.

"S-sakit!" keluhku ketika lagi, lagi dan lagi batuk disertai keluarnya darah itu menjarahku tanpa belas kasihan.

Aku meremas dadaku kuat-kuat. Tapi aku yakin ada yang meremas jantung dan paru-paruku lebih kuat dari remasanku, hingga rasanya sesak, nyeri dan―

lebih baik aku mati!

"Sore, Alvin..."

"Sore, Al..."

Aku rasa, aku menangkap dua suara. Yang pertama, aku kenal suara bariton itu. siapa lagi kalau bukan Gaza. Dan suara kedua, lembut, indah dan sedikit banyaknya telah mengusik hatiku. Aku terperangah begitu sadar siapa pemilik suara itu.

Fia!

Alfia!

"Alvin!" Gaza memekik keras setelah sebelumnya ia berjalan menghampiriku.

Ya, wajarlah ia seperti itu. Mungkin noda darah tidak akan begitu terlihat di seprai merahku. Tapi, kaus putihku? Baiklah, kali ini aku tidak bisa mengelak seperti hari-hari sebelumnya.

Kulihat wajah Gaza pucat pasi karena panik. Dan Fia, tidak beda jauh dengan Gaza. Kurasakan tangan Gaza merengkuh tubuhku. Dan tangan Fia, untuk pertama kalinya terasa hangat dan halus menyentuh wajahku.

"Kita harus ke rumah sakit, Za!" ada getaran di balik suara Fia. Ia terlihat khawatir dan aku sudah tidak punya kekuatan lagi.

Yang terakhir kulihat adalah wajah manis gadis itu. Setelah itu lubang hitam menarik kesadaranku. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

Payah sekali diriku! Bahkan di depan orang yang begitu aku cintai. Tapi untuk pertama kalinya aku merasa begitu bahagia.

Terimakasih, Fia!

*

"Jadi, semua ini ulah si autis Gaza?"

Fia mengangguk samar.

Aku palingkan wajahku pada Gaza yang tampak menyeringai penuh kemenangan di sofa, agak jauh dari tempatku berbaring. sensasi bau khas rumah sakit masih terasa saja meski kali ini aku bernafas dengan alat bantu pernafasan. Entah siapa yang lagi-lagi membawaku ke tempat ini.

"Jika tidak begitu, aku tidak yakin kamu akan mengizinkanku mendekati Fia untuk bilang semua tentangmu padanya." Gaza berjalan mendekat ke arahku setelah sebelumnya menyimpan majalah yang dibacanya di sembarang tempat. Iseng saja dia menyentil keningku. Sakit bodoh!

Aku mendesis kesal. Dan Fia tertawa kecil. Ah, dia selalu manis dalam ekspresi bagaimana pun.
Fia, Fia... aku sangat mencintaimu.

Sebenarnya, aku ingin bicara panjang lebar dengan Fia. Tapi apa daya, suaraku tercekat di tenggorokanku. Jangankan, untuk bicara, untuk mengumpulkan oksigen dan menghirupnya saja paru-paruku sudah lupa caranya.

Dan aku hanya bisa menatapnya saja. Tatapan kami beradu. Semoga kau bisa membaca bahasa mataku, Fia.

Aku mencintaimu.

Sangat mencintaimu, Fia.

Kulihat Fia tersenyum. Dan dengan lembut ia menggenggam erat tanganku yang bebas jarum infus.
"Hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah aku tahu kamu mencintaiku, Al."

Rasanya, saat ini aku juga bahagia. Karena hal yang paling aku inginkan adalah ini. Kamu tahu aku mencintaimu. Dan kamu bilang kamu bahagia. Terimakasih, Fia. Terimakasih, Gaza. Maaf juga aku sudah memenuhi hatiku dengan berburuk sangka padamu. Itu salahmu sendiri tidak memberitahu dari awal!
Dan sekarang, tidak ada alasan lagi untuk aku tetap tinggal. Semuanya sudah selelsai, kemauanku selama ini sudah tercapai. Sekarang apa lagi―

Selain tersenyum, menutup mata dan memenuhi seruan Ilahi untuk pulang padaNya.

END

Jumat, 30 Agustus 2013

0

LAST (Drabble)


-o0o-

“Biarkan semuanya berakhir―”

“Ta-tapi ke-kenapa? Bukannya kau sudah memaafkan kesalahanku tempo hari?”

Suaraku lenyap, terbang bersama siulan angin sore itu. Nyaris tercekat. Ada yang menyumbat tenggorokan dan paru-paruku hingga rasanya aku seperti kehilangan oksigen. Rasa sesak dengan cerdasnya menyerangku saat suara bass itu mampir di telingaku.

“Apa salahku?”

Pemuda berpupil cokelat itu menatapku sekilas sebelum akhirnya membiarkan mata yang paling aku sukai darinya itu berotasi mengelilingi keadaan di sekitar kami. Taman kota.

Dan janganlah menggerakan matamu seperti itu. Tolonglah! Itu membuatku semakin takut kehilanganmu.

“Karena aku tidak pernah mampu membuatmu bahagia.” Ia menjawab pertanyaanku dalam menit kelima setelah aku melontarkan soal yang mungkin―baginya―lebih sulit dari soal fisika. Jawabannya tidak sesuai pertanyaanku.

“Tapi memilikimu adalah kebahagiaan untukku.”

Kali ini suaraku lindap dihisap deru nafasku yang kian cepat. Air mata menggenang sempurna di pelupuk mataku.
Apa sungguh alasan itu yang membuatmu dengan entengnya membentangkan garis merah dalam hubungan yang baru berjalan hampir setengah tahun ini, dan di saat aku benar-benar sedang mencintaimu dan merindukanmu? Sungguhkah hanya itu? Bukan karena aku terlalu egois dan menuntutmu? Atau karena kau mulai berpaling hati pada gadis lain? Jika memang karena itu―karena kau tidak bisa membuatku bahagia―sungguh itu adalah alasan terindah yang pernah mampir di telingaku.

“Aku bukan laki-laki yang baik untukmu.” Laki-laki berkulit putih bersih itu membiarkan bola matanya berhenti kali ini. Ia tak lagi menyapu keadaan sekitar. Ujung-ujung sepatu kets putihnya, menjadi pilihan terakhir titik fokus matanya.“Aku tak bisa jadi seperti yang kau mau,” sambungnya.


“Tapi aku sangat mencintaimu. Aku sangat menyayangimu.”

Kamu memang menyebalkan. Jujur kuakui, kamu memang mengesalkan. Kamu sering mengacuhkanku. Kamu tidak pernah peduli padaku. Kamu tidak pernah memberikan perhatian padaku dan kamu sering membuatku ilfeel dengan sikap kekanak-kanakanmu itu. Tapi, sungguh aku terlanjur mencintaimu, dan itu dengan sangat!

“Tapi maaf, aku benar-benar sudah lelah menjalani hubungan ini.”

Perfect!

Air mata yang kubendung seapik mungkin dengan ketegaran buatan itu akhirnya membludak juga saat selangkah saja laki-laki yang selalu harum casablanca itu berjalan menjauhiku.Kurasakan cairan hangat itu menjamah pipiku. Rasa asin karena butiran bening itu menyentuh bibiku yang bergetar, tersuspensi dengan rasa pahit yang meraba bagian hatiku. Kepiluan melukiskan diri dalam palung jiwaku.

“KENAPA?

“Apa salahku?

“Katakan padaku!!

“Tidak bisakah kau memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanku, seperti saat aku memberi kesempatan itu padamu ketika kamu mengkhianati cintaku. Ketika kau menduakan cintaku?”

Aku tertegun. Lama. Ingin rasanya saat itu juga aku menghilang. Aku seperti bermimpi. Cinta tulusku kini terombang-ambing tanpa pemilik. Harapanku redup. Impianku hancur. Dan punggung tegak itu, punggung orang yang begitu kusayangi perlahan menjauh meninggalkanku.

Andai saja ada izin Tuhan, ingin kupeluk pemuda berbaju merah cerah yang selalu wangi itu dan melarangnya jangan pergi, karena aku terlampau mencintainya.

FIN

*

Total Tayangan Halaman

Yuukk follow me!

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Nae
bandung, jawa barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

i crazy with this song